Kita,sebagai manusia.Dalam pandangan islam,mempunyai tiga hal yang akan dinilai sesudah berpulang mengahadapNya? Amal kebaikan, ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh.Kalau harimau yang mati, sesudah dikupas kulitnya orang tidak ada yang sanggup mengenal dagingnya.Hanya lewat belangnya orang segera mengetahuinya, ini kulit harimau!.Demikian juga dengan gading. Tanpa melihat tubuh gajah pun, hanya dengan gadingnya orang mengenal ini milik gajah.Karena hanya gajahlah yang memiliki gading. Sebagai ciri khasatau kelebihan,sebagai identitasnya.
Manusia,apa yang bisa diperbuat dengan identitasnya dan bagaiman mengenalinya?.Apakah dengan kulit atau hidungnya? Atau dengan rambut atau jejak kakiny?.Sesuai dengan syariat Islam,manusia yang mati akan dikenali lewat amal, pengetahuan dan anaknya yang soleh!. Lalu, amalan yang mana, pengetahuan seperti apa dan anak shaleh yang bagaimana? Yang dimaksudkan. Dan bagaimana mengenalinya? Dengan apa kita bisa tahu, apa-apa yang dimaksud di atas dan bagaimana menggapainya?
Sejauh ini sejarah telah membuktikan, bahwa hanya dengan pendidikanlah manusia bisa membedakan dan menggapai ketiga identitas tersebut. Orang bisa mengenal bahwa amalan baik atau tidak bisa diketahui jika mereka belajar tentang kebaikan dan keburukan. Orang mengenal penyakit dan obatnya dari pendidikan. Orang akan mengenal sebuah ilmu pengetahuan juga lewat pendidikan. Seorang anak bisa berbakti apabila dididik lewat pendidikan yang baik. Intinya lewat pendidikanlah identitas seseorang yang merupakan cermin kualitas hidupnya bisa tercapai.
Pendidikan bukan hanya mencetak orang pintar saja, namun pendidikan sebaiknya lebih ditekankan untuk mencetak orang-orang bijak.
Yang punyan kemampuan dan berkomunikasi dengan baik. Karena tujuan utama pendidikan adalah merubah perilaku.Dari yang tidak baik menjadi baik. Dari tidak/belum bisa menjadi bisa.Juga pendidikan dapat mengarahkan seseorang yang sudcah tahu untuk menyalurkan pengetahuannya ke jalan yang benar.
Sebenarnya pendidikan tidak harus formal lewat bangku sekolah atau bangku kuliah. Pendidikan informal pun bisa dimanfaatkan untuk memenuhi tuntutan tersebut, melalui diskusi bersama teman,pengajian,membaca buku sendiri, atau otodidak,dsbg.
Semua dilakukan tidak lain agar identitas diri ini exist. Potensi diri bisa diaktualisasikan secara maksimal. Talenta bisa terasah sesuai daya dan kebutuhan. Bila melihat kembali tujuan pendidikan tersebut diatas, pada dasarnya identitas tidak akan berubah tanpa keterlibatan pendidikan. Oleh sebab itu, bila kita ingin memiliki identitas, sudah seharusnya kita cintai pendidikan. Sekali lagi pendidikan tidak hanya lewat sekolahan saja. Pendidikan atau pelajaran bisa kita dapat lewat jalan mana saja, dalam bentuk apa saja dan dimana saja.
Semakin banyak pendidikan atau pelajaran, semakin banyaklah ilmu yang diterima. Semakin banyak ilmu semakinlah bijaklah manusia, seharusnya. Dan semakin bijak manusia itu, semakin jelas existensi dirinya. Yang akan menukir identitas dirinya.Dia akan meninggalkan jejak amal shaleh yang akan bisa dikenali oleh generasi penerusnya. Yang akan memberikan manfaat untuk sesamnya. Dan yang akan mencetak putra-putri saleh saleha. Yang akan meneranginya, menopangnya dan akan menolongnya kelak. Dengan do,a dan ibadahnya, dengan b akti dan budi pekertinya..Jika suatu saat dia tiada, identitas itu akan tetap melekat di hati siapa saja.Yang akan dikenang, ditauladani dan insya allah akan selalu mengalir do,a dan pahala.
Jika kita tidak punya identitas, tidak ada jejak yang kita tinggalkan. Tidak ada warna yang kita torehkan, tidak ada harum yang kita tebarkan.
Recent Comments